Akhirnya saya pergi juga ke kota Paris untuk menutup liburan Natal tahun ini tanpa rencana. Untungnya segala sesuatu bisa disiapkan dengan cukup baik. Pagi-pagi sekali saya berangkat dari Kaiserslautern ke Saarbrucken dan ganti kereta menuju Paris dengan
ICE, kereta cepat Jerman. Sebetulnya pingin naik
TGV, tapi harganya lebih mahal sehingga saya harus berpikir ulang. Sekitar 3 jam perjalanan, saya sampai di Gare d'Lest, salah satu stasiun kereta api antar kota/negara di Paris.
Saya membayangkan Paris sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Eropa yang luas, megah, eksotis, artistik, ramai, bersih dan modern. Tapi sepertinya saya keliru untuk dua hal terakhir. Saya belum pernah melihat New York, London, atau Tokyo, tapi setidaknya kalau dibandingkan dengan Singapore atau Frankfurt untuk soal kebersihan dan pemanfaatan teknologi, nampaknya Paris sedikit tertinggal.
Soal teknologi saya masih bisa memahami karena mungkin justru itu yang membuat kota ini menjadi salah satu tujuan wisata utama dunia. Orang-orang Eropa sangat baik dalam melestarikan bangungan-bangunan dan objek-objek kuno lainnya sehingga seolah kita dibawa ke situasi berabad-abad silam. Selain itu, saya kemarin memang tidak sempat mengunjungi La Défense, business district di Paris yang nampaknya sangat megah dan menurut Wikipedia, ternyata adalah business district terbesar di Eropa. :(
Namun untuk soal kebersihan memang agak parah. Sampah di mana-mana, terutama di tempat-tempat umum seperti trotoar, taman, stasiun. Banyak grafiti-grafiti kumuh di mana-mana bahkan di gerbong-gerbong kereta api. Teman saya malah mencium bau pesing di kereta Metro yang kami tumpangi dari Gare d'Lest ke hotel. :( Manusianya juga nggak seteratur di Jerman. Nggak sulit kita menemukan pengemis, gelandangan di pojok-pojok stasiun atau penjual suvenir asongan yang menjajakan dagangannya dengan agresif bak di Mangga Dua. "
Five Euro sir. Five Euro. Very cheap, I give you special price ... Okay, okay, Two Euro. Two Euro sir" (sambil membututi kemana kita berjalan dan menyodor-nyodorkan barang jualannya). ^^
Pernah juga saya berada di satu gerbong metro dengan gerombolan anak sekolah yang sepertinya
drunken dan teriak-teriak nggak jelas tanpa merasa bersalah. Yang ini di Jerman juga ada, cuma nggak separah itu deh kayaknya. Entah karena pertimbangan apa, tingkat kenyamanannya di sarana angkutan umum banyak dikurangi. Gerbong kereta-kereta
RER di Paris yang sepertinya menggunakan seri yang sama dengan yang dipakai di Jerman (model bertingkat/
bilevel) interiornya jauh beda dan tingkat kenyamanannya banyak dipangkas. Mungkin gerbong kelas 2 di Jerman bisa setara dengan kelas 1 di Paris.

Well, tapi semua kesan negatif itu tertutupi oleh tempat-tempat yang menakjubkan dan perjalanan yang menyenangkan di sana. Juga makanannya! Soal makanan ini selama 3 hari saya mencicipi masakan dari 5 negara. Hari pertama saya makan masakan Perancis, dengan tahapan coursesnya yang nggak menguntungkan karena sangat lama (
slow food), sementara waktu itu sudah kelaparan. Untuk dinner saya ke restoran Indonesia di dekat kampus Sorbonne. Ada menu seperti Gulai Kambing, Rendang Sapi dan Gado-Gado. Enak, tapi kalau liat harganya bisa misuh-misuh, apalagi kalau dirupiahkan. Hahaha. Hari kedua saya makan McDonalds di Versailles dan makan malam di restoran Lebanon dekat Eiffel. Acara makan-makan ditutup dengan masakan Thailand di hari terakhir. Semua itu membuat saya agak bangkrut karena harga makan di Paris sekitar 3-5 kali lipat dibandingkan di kota-kota kecil-menengah Jerman.
Terakhir, inilah
itinerary saya selama di Paris. Ngga terlalu banyak yang bisa dikunjungi dalam 2,5 hari meskipun pulang ke hotel selalu sampai jam 12 malam. Ya, waktu banyak buat jalan kaki, naik turun stasiun Metro dan berburu foto. Jika ada kesempatan kedua, tentunya akan menyenangkan. Lebih menyenangkan sebetulnya kalau bernuansa romantis, misal dengan pacar, istri, selingkuhan atau gebetan. Hehehe.
Hari ke-1: Issy-les-Moulineaux, Grande Mosquée de Paris, Jardin des Plantes, Rue Mouffetard, Panthéon, University of Paris (Sorbonne), Notre Dame, sepanjang Seine River, Louvre (outside).
Hari ke-2: Château de Versailles, Les Invalides, Champs-Élysées, Arc de Triomphe, Eiffel Tower
Hari ke-3: Jardin du Luxembourg, Saint-Sulpice Church, Louvre (inside)
Album foto: