Monday, October 12, 2009

Welcome to Bolzano!

Almost 3 weeks ago, I moved out from Kaiserslautern to Bolzano, a city in the Northest region of Italy. This is a small city (about 100.000 inhabitants, similar size compared to Kaiserslautern). This city is so special since it has both German and Italian speaking people considering its location in the border or Austria-Italy and also its historical background.


From Bolzano

The city is so beautiful considering its location which is surrounded by the Alps mountains. You can see some pictures of the city that I've uploaded into my Picasaweb (but not finished). Bolzano also has a typical medieval old town with Gothic and Romanesque architecture. It's even better since many tourist come to the city and support economic activities. On the hills and mountains surrounding this city, we can find many castles. Some resources said that this city has the highest concentration of castles throughout Europe ( ... ). Across the river, we could find the more modern part of the city for residential and industrial area.

Bolzano and also the whole province of Trentino-Alto Adige have 2 official language, which are Italian and German. That's why we could always see any information in 2 languages. As I said before, most of the people speak both Italian and German. This might be an advantage for me since (at least) I can speak a little bit German. ;)

I'm enjoying the life here, even though the living cost is a little bit higher here. I also can't find many asian-shops (so far only one and the prices are twice as much as those in Germany). But since my dormitory is so close to the university, I can depend on the Mensa (the university's cafetaria) for the whole week. Well, sometime I can cook. Of course ;)

Benvenuti a Bolzano ! *Google-translate*

From Bolzano

My "new" camera ...

I bought a new camera about 3-4 months ago. Well, a better, more "serious" and more "costly" point-and-shoot camera. But not an SLR! Just a prosumer camera : Panasonic DMC-LX3 (silver). This is not a really expensive gadget, but also not a 100-200 Euro pocket camera. I could have bought a low-end digital SLR within the same range of budget.

Then, why not?

The reason is simple. I don't like "photography". Photography, in terms of spending too much time and money just for finding the best moment for 4-5 shots and wasting hundred Euros for lenses and other unrealistic accessories. Well, at least until now I am still thinking that 1000 Euro is expensive enough for a secondary hobby. :) What I needed was just a better travelling camera which can produce quality results as I want it to do.

I don't want to persuade you to do the same thing, because I know that probably not so many people agree with me. 500 Euro is enough to start learning a "serious" photography with a real professional camera, rather than this "amateur-look-camera".

Okay, let me show you some collection from my LX3 in my Flickr.





Thursday, July 23, 2009

No Update

OMG, three months without update! This is a proof that I can't be a good blog writer. :'(
But anyway, nothing so special within this 3 months, except my trip to Spain on June, maybe.

About last month ago, I got an idea to write some more serious articles here, but then I realized that I did have many serious things to write, e.g. seminar paper! Hahaha. So, I don't know when I'm gonna start to blog again.

Thursday, April 16, 2009

Der Rheinfall

Sebetulnya di bulan April ini saya punya waktu liburan yang cukup panjang, mungkin sekitar 3 minggu, tapi karena beberapa alasan saya nggak terlalu berambisi untuk menghabiskannya dengan traveling. Satu-satunya perjalanan saya terjauh pada libur Paskah ini hanya mengunjungi air terjun (waterfall) terbesar di Eropa, Rheil Falls, berlokasi di kota Schaffhausen, Swiss bagian utara dekat perbatasan Jerman.

Sebagai orang Asia, apalagi Indonesia, tentunya objek wisata alam seperti ini sama sekali bukan sesuatu yang baru . Di Indoensia tentunya banyak tempat-tempat lainnya yang jauh lebih indah dan menakjubkan, baik itu berupa pegunungan, danau, atau pantai. Tapi, setelah hampir satu tahun di sini dan bosan dengan pemandangan bukit-bukit, hutan pinus, atau taman, rasanya cukup puas juga melihat air terjun sebesar ini.

From Rheinfall (Switzerland)

Air terjun ini terbentuk konon sejak jaman es, berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu. Berhulu dari pegunungan Alpen di Swiss, air terjun ini meneruskan aliran air ke sungai Rhine, sungai terpanjang di Eropa yang membelah Jerman dari selatan ke utara, dan akhirnya bermuara d Laut Utara (North Sea). Nggak heran, volume airnya pun memang sangat besar, dan konon jauh lebih besar lagi di musim panas.

Saya mengunjungi tempat ini bersama 4 teman. Total waktu yang dibutuhkan menuju tempat ini sekitar 5 jam dari Kaiserslautern, menggunakan kereta (dengan 2-3 ganti kereta). Saya nggak inget detail rutenya, tapi tentunya mengarah ke tenggara lewat Mannheim dan Karlsruhe dan akhirnya menembus perbatasan. Meskipun negara Swiss sejak tahun lalu sudah bergabung ke kesepakatan schengen, tapi saya perlu waktu agak lama sekitar 15-20 menit berurusan dengan petugas imigrasi di stasiun tujuan untuk pemeriksaan paspor. Tapi setidaknya petugas-petugasnya agak lebih ramah ketimbang sewaktu dulu masuk Perancis.

So, begitu sampai di tujuan, kami langsung menuju ke lokasi air terjun, yang nggak jauh-jauh banget dari stasiun (15 menit jalan kaki). Banyak waktu saya habiskan untuk berfoto-foto, jalan-jalan mengelilingi bagian bawah dari air terjun, dan menyeberang ke tengah-tengah dengan tour boat (di tengah-tengah air terjun, ada semacam batu besar yang bisa dinaiki oleh manusia, lengkap dengan anak-anak tangganya). Menyenangkan. Satu hal yang kurang menyenangkan di sana, adalah harga-harga yang sangat mahal. Sebagai perbandingan, donner kebab di Jerman yang harganya berkisar 2-3 euro di sana harganya 5 euro (itupun bukan kualitas yang terbaik, saya kira).

From Rheinfall (Switzerland)

From Rheinfall (Switzerland)

Rasanya memang agak nanggung untuk berkunjung ke ujung Swiss tanpa mengunjungi kota-kota lainnya. Namun memang saat itu saya cuma berencana untuk menghabiskan waktu 1 hari untuk berjalan-jalan. Kalau tidak, tentu saja saya pingin sekali mengunjungi Zurich, Bern, dan tentunya pusat riset CERN di Jenewa.

Sunday, January 25, 2009

Bami Goreng

Mungkin untuk menyesuaikan dengan taste western food, orang-orang di sini memasak nasi goreng atau bakmi goreng dengan curry dan bumbu lainnya yang membuat rasanya agak kecut. Tanpa kecap pula! Mereka juga nampaknya kurang berani menonjolkan citarasa dari bawang putih yang seharusnya merupakan bumbu dasar masakan-masakan Asia.

Minggu lalu, salah satu menu di Mensa (kafetaria kampus) adalah Bami Goreng (kok jadi Bami bukan Bakmi?), sebagai bagian dari International Week selama 1 minggu. Bami Goreng menjadi salah satu wakil masakan Asia selain satu masakan China, yang rasanya juga sangat bukan-chinese-food. Selama seminggu itu juga ada makanan dari Australia, Amerika, Eropa dan Afrika.

Saturday, January 17, 2009

Paris

Akhirnya saya pergi juga ke kota Paris untuk menutup liburan Natal tahun ini tanpa rencana. Untungnya segala sesuatu bisa disiapkan dengan cukup baik. Pagi-pagi sekali saya berangkat dari Kaiserslautern ke Saarbrucken dan ganti kereta menuju Paris dengan ICE, kereta cepat Jerman. Sebetulnya pingin naik TGV, tapi harganya lebih mahal sehingga saya harus berpikir ulang. Sekitar 3 jam perjalanan, saya sampai di Gare d'Lest, salah satu stasiun kereta api antar kota/negara di Paris.

Saya membayangkan Paris sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Eropa yang luas, megah, eksotis, artistik, ramai, bersih dan modern. Tapi sepertinya saya keliru untuk dua hal terakhir. Saya belum pernah melihat New York, London, atau Tokyo, tapi setidaknya kalau dibandingkan dengan Singapore atau Frankfurt untuk soal kebersihan dan pemanfaatan teknologi, nampaknya Paris sedikit tertinggal.

Soal teknologi saya masih bisa memahami karena mungkin justru itu yang membuat kota ini menjadi salah satu tujuan wisata utama dunia. Orang-orang Eropa sangat baik dalam melestarikan bangungan-bangunan dan objek-objek kuno lainnya sehingga seolah kita dibawa ke situasi berabad-abad silam. Selain itu, saya kemarin memang tidak sempat mengunjungi La Défense, business district di Paris yang nampaknya sangat megah dan menurut Wikipedia, ternyata adalah business district terbesar di Eropa. :(

Namun untuk soal kebersihan memang agak parah. Sampah di mana-mana, terutama di tempat-tempat umum seperti trotoar, taman, stasiun. Banyak grafiti-grafiti kumuh di mana-mana bahkan di gerbong-gerbong kereta api. Teman saya malah mencium bau pesing di kereta Metro yang kami tumpangi dari Gare d'Lest ke hotel. :( Manusianya juga nggak seteratur di Jerman. Nggak sulit kita menemukan pengemis, gelandangan di pojok-pojok stasiun atau penjual suvenir asongan yang menjajakan dagangannya dengan agresif bak di Mangga Dua. "Five Euro sir. Five Euro. Very cheap, I give you special price ... Okay, okay, Two Euro. Two Euro sir" (sambil membututi kemana kita berjalan dan menyodor-nyodorkan barang jualannya). ^^

Pernah juga saya berada di satu gerbong metro dengan gerombolan anak sekolah yang sepertinya drunken dan teriak-teriak nggak jelas tanpa merasa bersalah. Yang ini di Jerman juga ada, cuma nggak separah itu deh kayaknya. Entah karena pertimbangan apa, tingkat kenyamanannya di sarana angkutan umum banyak dikurangi. Gerbong kereta-kereta RER di Paris yang sepertinya menggunakan seri yang sama dengan yang dipakai di Jerman (model bertingkat/bilevel) interiornya jauh beda dan tingkat kenyamanannya banyak dipangkas. Mungkin gerbong kelas 2 di Jerman bisa setara dengan kelas 1 di Paris.


Well, tapi semua kesan negatif itu tertutupi oleh tempat-tempat yang menakjubkan dan perjalanan yang menyenangkan di sana. Juga makanannya! Soal makanan ini selama 3 hari saya mencicipi masakan dari 5 negara. Hari pertama saya makan masakan Perancis, dengan tahapan coursesnya yang nggak menguntungkan karena sangat lama (slow food), sementara waktu itu sudah kelaparan. Untuk dinner saya ke restoran Indonesia di dekat kampus Sorbonne. Ada menu seperti Gulai Kambing, Rendang Sapi dan Gado-Gado. Enak, tapi kalau liat harganya bisa misuh-misuh, apalagi kalau dirupiahkan. Hahaha. Hari kedua saya makan McDonalds di Versailles dan makan malam di restoran Lebanon dekat Eiffel. Acara makan-makan ditutup dengan masakan Thailand di hari terakhir. Semua itu membuat saya agak bangkrut karena harga makan di Paris sekitar 3-5 kali lipat dibandingkan di kota-kota kecil-menengah Jerman.

Terakhir, inilah itinerary saya selama di Paris. Ngga terlalu banyak yang bisa dikunjungi dalam 2,5 hari meskipun pulang ke hotel selalu sampai jam 12 malam. Ya, waktu banyak buat jalan kaki, naik turun stasiun Metro dan berburu foto. Jika ada kesempatan kedua, tentunya akan menyenangkan. Lebih menyenangkan sebetulnya kalau bernuansa romantis, misal dengan pacar, istri, selingkuhan atau gebetan. Hehehe.

Hari ke-1: Issy-les-Moulineaux, Grande Mosquée de Paris, Jardin des Plantes, Rue Mouffetard, Panthéon, University of Paris (Sorbonne), Notre Dame, sepanjang Seine River, Louvre (outside).
Hari ke-2: Château de Versailles, Les Invalides, Champs-Élysées, Arc de Triomphe, Eiffel Tower
Hari ke-3: Jardin du Luxembourg, Saint-Sulpice Church, Louvre (inside)

Album foto:
Paris

Monday, December 22, 2008

Happy Birthday

Sekarang jam 2 pagi, dan saya masih harus membikin tulisan ini, tapi nggak apa2 deh. Ini tanggal 23 Desember, hari ulang tahunnya si Bebe. Moga-moga setelah ini, dia nggak selalu nganggep saya nggak perhatian atau sejenisnya. Capekk.

Sudah bisa ditebak, tentunya tahun ini saya ngga bisa nemenin di hari ulang tahunnya. Nggak bakal ada ritual-ritual yang biasanya saya lakuin bareng dia kalau ada yang ultah. Sudah bisa ditebak juga, seperti biasanya no surprise dari saya. Menyedihkan memang. Selain karena faktor sayanya yang selalu bingung kalau bikin surprise, faktor dianya juga yang sejak berbulan-bulan sebelumnya udah minta kado ini atau itu. So, gimana mau bikin surprisenya.

Be, selamat ultah ya. Moga-moga kamu bisa hepi hari ini .. dan juga di hari-hari lainnya, meskipun aku nggak bisa selalu bikin kamu hepi, atau menemani kamu sewaktu hepi. Moga2 cita-citamu tercapai. Tapi yang lebih penting moga2 kamu semakin dewasa dan bisa memaknai hidupmu sendiri. Jangan rewelan lagi, jangan suka bete, jangan boros, jangan suka belanja barang2 nggak jelas, jangan suka marah2 kalau aku sibuk dan jangan suka negative-thinking.

Mungkin aku nggak pernah bisa romantis. Mungkin aku nggak bisa inget setiap peristiwa di hari ultahmu selama 4 tahun terakhir ini. Tapi percaya aja, sampai detik ini aku masih sayang. Rasa sayang yang nggak mudah hilang cuma karena kesel, sebel, benci atau sakit hati.

Liebe,
Bibi