Dua minggu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke
Venesia (
Venice, Venezia), yang cukup terkenal karena keunikan arsitekturnya, budayanya dan berbagai festival yang membuat kota ini pernah dinobatkan sebagai kota paling romantis di Eropa --sejajar dengan Paris dan Roma. Sayangnya, saya hanya sempat berada di kota ini selama setengah hari, karena keterbatasan waktu. Perjalanan dari Bolzano ke Venesia menempuh waktu sekitar 4 jam menggunakan kereta api.
Venesia adalah kota yang paling menakjubkan yang pernah saya kunjungi dalam hidup saya. Tidak lagi
Paris, bahkan
Barcelona. Padahal sebetulnya, setengah hari itu tidak cukup untuk benar-benar menjelajah seluruh sudut kota yang tersebar di pulau-pulau di perairan Adriatik. Kalau ada kesempatan, pastinya saya pingin kembali ke sana.
Kalau lihat sejarahnya saja, Venesia ini sudah sangat mengagumkan. Venesia sudah mengalami sejarah yang sangat panjang dan berpengaruh dalam peradaban Eropa, sejak kota ini didirikan di abad-abad awal oleh para pengungsi dari kota-kota Italia yang waktu itu diinvasi orang-orang Jerman. Mereka kemudian membentuk suatu pemukiman nelayan yang tersebar di pulau-pulau yang membentuk sebuah laguna. Venesia juga pernah punya sejarah panjang sebagai suatu negara dengan kekuatan maritim yang sangat kuat, dan berperan besar dalam perang salib selama berabad-abad. Berbagai konflik politik akhirnya membuat Venesia melemah dan dikuasai orang-orang Perancis (Napoleon Bonaparte), Austria dan akhirnya membentuk Republik Italia yang sekarang.
Kota ini memang benar-benar dibangun 'di atas air'. Konon, ini memang dimaksudkan sebagai salah satu sistem pertahanan terhadap serangan musuh-musuh. Hampir seluruh penjuru kota memang hanya bisa dilewati melalui ratusan kanal yang terserbar di ratusan pulau-pulau. Jalan darat hanya bisa ditempuh melalui ribuan gang-gang sempit dan jembatan-jembatan di atas kanal yang menghubungkan setiap sudut kota. Dengan situasi seperti ini, 'musuh' yang tidak memiliki cukup armada laut akan mengalami kesulitan. Apalagi pada jaman itu, Venice mempunyai pabrik kapal perang yang cukup besar di Eropa.
Saya berkunjung ke kota ini pada hari kedua
karnaval Venesia, yang konon merupakan salah satu festival terbesar di Eropa. Karnaval ini faktanya sudah berusia ribuan tahun (sejak sekitar abad 13), sebagai perayaan yang berhubungan dengan awal masa puasa bagi penganut Katolik Roma. Kata 'karnaval' yang dalam bahasa italia:
carnevale, berasal dari bahasa latin 'carnem levare' yang berarti 'farewell to meat'. Orang Katolik melakukan puasa sebelum hari Paksah dengan melakukan pantang (salah satunya daging).
Seperti festival-festival lainnya di Venesia saat itu, banyak orang memakai kostum-kostum unik dan topeng. Pada masa itu topeng banyak digunakan untuk menyembunyikan identitas orang-orang yang tidak ingin dikenali pada saat berjudi atau terlibat dalam bisnis prostitusi. Di sisi lain, topeng juga menjadi simbol kemewahan dan kehormatan wanita. Namun karena pada akhirnya kebiasaan ini banyak disalahgunakan untuk kejahatan dan mengembangkan prostitusi di kota ini, akhirnya pemakaian topeng dilarang oleh Gereja dan pemerintah. Larangan ini berlangsung selama ribuan tahun, sampai pada tahun 1979, sekelompok orang kembali menghidupkan karnaval ini dan berlangsung sampai sekarang.
Karnaval ini diselenggarakan di seluruh penjuru kota, namun berpusat di
Piazza San Marco, yang merupakan pusat kota Venesia (di sana ada katedral, istana dan berbagai bangunan penting lainnya). Ribuan orang memadati daerah ini dengan memakai kostum yang unik-unik. Ada panggung besar yang menampilkan pertunjukan budaya. Di banyak bar atau pub, ada pesta-pesta
private yang ikut memeriahkan festival ini.
Setengah hari memang sangat kurang. Saya cuma bisa berjalan kaki mencapai Piazza San Marco, di sebelah selatan pulau utama dan belum sempat menyeberang ke pulau-pulau lainnya, yang pastinya lebih menarik. Meskipun harus berjejalan bersama ratusan ribu orang yang memadati gang-gang sempit sehingga situasinya mirip Malioboro di waktu liburan, dan mengantri di hampir setiap jembatan, rasanya pengalaman pertama ini tetap berkesan buat saya.
Sayangnya, saya dan teman-teman nggak sempat mencoba naik gondola, sejenis perahu khas di Venesia. Bukan sekedar harga sewanya yang sangat mahal, tapi attitude dari para
gondolier yang sempat membikin kami trauma. Campuran gaya tawar-menawar tukang becak di Indonesia dan perangai keras orang Italia :))