Thursday, April 16, 2009

Der Rheinfall

Sebetulnya di bulan April ini saya punya waktu liburan yang cukup panjang, mungkin sekitar 3 minggu, tapi karena beberapa alasan saya nggak terlalu berambisi untuk menghabiskannya dengan traveling. Satu-satunya perjalanan saya terjauh pada libur Paskah ini hanya mengunjungi air terjun (waterfall) terbesar di Eropa, Rheil Falls, berlokasi di kota Schaffhausen, Swiss bagian utara dekat perbatasan Jerman.

Sebagai orang Asia, apalagi Indonesia, tentunya objek wisata alam seperti ini sama sekali bukan sesuatu yang baru . Di Indoensia tentunya banyak tempat-tempat lainnya yang jauh lebih indah dan menakjubkan, baik itu berupa pegunungan, danau, atau pantai. Tapi, setelah hampir satu tahun di sini dan bosan dengan pemandangan bukit-bukit, hutan pinus, atau taman, rasanya cukup puas juga melihat air terjun sebesar ini.

From Rheinfall (Switzerland)

Air terjun ini terbentuk konon sejak jaman es, berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu. Berhulu dari pegunungan Alpen di Swiss, air terjun ini meneruskan aliran air ke sungai Rhine, sungai terpanjang di Eropa yang membelah Jerman dari selatan ke utara, dan akhirnya bermuara d Laut Utara (North Sea). Nggak heran, volume airnya pun memang sangat besar, dan konon jauh lebih besar lagi di musim panas.

Saya mengunjungi tempat ini bersama 4 teman. Total waktu yang dibutuhkan menuju tempat ini sekitar 5 jam dari Kaiserslautern, menggunakan kereta (dengan 2-3 ganti kereta). Saya nggak inget detail rutenya, tapi tentunya mengarah ke tenggara lewat Mannheim dan Karlsruhe dan akhirnya menembus perbatasan. Meskipun negara Swiss sejak tahun lalu sudah bergabung ke kesepakatan schengen, tapi saya perlu waktu agak lama sekitar 15-20 menit berurusan dengan petugas imigrasi di stasiun tujuan untuk pemeriksaan paspor. Tapi setidaknya petugas-petugasnya agak lebih ramah ketimbang sewaktu dulu masuk Perancis.

So, begitu sampai di tujuan, kami langsung menuju ke lokasi air terjun, yang nggak jauh-jauh banget dari stasiun (15 menit jalan kaki). Banyak waktu saya habiskan untuk berfoto-foto, jalan-jalan mengelilingi bagian bawah dari air terjun, dan menyeberang ke tengah-tengah dengan tour boat (di tengah-tengah air terjun, ada semacam batu besar yang bisa dinaiki oleh manusia, lengkap dengan anak-anak tangganya). Menyenangkan. Satu hal yang kurang menyenangkan di sana, adalah harga-harga yang sangat mahal. Sebagai perbandingan, donner kebab di Jerman yang harganya berkisar 2-3 euro di sana harganya 5 euro (itupun bukan kualitas yang terbaik, saya kira).

From Rheinfall (Switzerland)

From Rheinfall (Switzerland)

Rasanya memang agak nanggung untuk berkunjung ke ujung Swiss tanpa mengunjungi kota-kota lainnya. Namun memang saat itu saya cuma berencana untuk menghabiskan waktu 1 hari untuk berjalan-jalan. Kalau tidak, tentu saja saya pingin sekali mengunjungi Zurich, Bern, dan tentunya pusat riset CERN di Jenewa.

Sunday, January 25, 2009

Bami Goreng

Mungkin untuk menyesuaikan dengan taste western food, orang-orang di sini memasak nasi goreng atau bakmi goreng dengan curry dan bumbu lainnya yang membuat rasanya agak kecut. Tanpa kecap pula! Mereka juga nampaknya kurang berani menonjolkan citarasa dari bawang putih yang seharusnya merupakan bumbu dasar masakan-masakan Asia.

Minggu lalu, salah satu menu di Mensa (kafetaria kampus) adalah Bami Goreng (kok jadi Bami bukan Bakmi?), sebagai bagian dari International Week selama 1 minggu. Bami Goreng menjadi salah satu wakil masakan Asia selain satu masakan China, yang rasanya juga sangat bukan-chinese-food. Selama seminggu itu juga ada makanan dari Australia, Amerika, Eropa dan Afrika.

Saturday, January 17, 2009

Paris

Akhirnya saya pergi juga ke kota Paris untuk menutup liburan Natal tahun ini tanpa rencana. Untungnya segala sesuatu bisa disiapkan dengan cukup baik. Pagi-pagi sekali saya berangkat dari Kaiserslautern ke Saarbrucken dan ganti kereta menuju Paris dengan ICE, kereta cepat Jerman. Sebetulnya pingin naik TGV, tapi harganya lebih mahal sehingga saya harus berpikir ulang. Sekitar 3 jam perjalanan, saya sampai di Gare d'Lest, salah satu stasiun kereta api antar kota/negara di Paris.

Saya membayangkan Paris sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Eropa yang luas, megah, eksotis, artistik, ramai, bersih dan modern. Tapi sepertinya saya keliru untuk dua hal terakhir. Saya belum pernah melihat New York, London, atau Tokyo, tapi setidaknya kalau dibandingkan dengan Singapore atau Frankfurt untuk soal kebersihan dan pemanfaatan teknologi, nampaknya Paris sedikit tertinggal.

Soal teknologi saya masih bisa memahami karena mungkin justru itu yang membuat kota ini menjadi salah satu tujuan wisata utama dunia. Orang-orang Eropa sangat baik dalam melestarikan bangungan-bangunan dan objek-objek kuno lainnya sehingga seolah kita dibawa ke situasi berabad-abad silam. Selain itu, saya kemarin memang tidak sempat mengunjungi La Défense, business district di Paris yang nampaknya sangat megah dan menurut Wikipedia, ternyata adalah business district terbesar di Eropa. :(

Namun untuk soal kebersihan memang agak parah. Sampah di mana-mana, terutama di tempat-tempat umum seperti trotoar, taman, stasiun. Banyak grafiti-grafiti kumuh di mana-mana bahkan di gerbong-gerbong kereta api. Teman saya malah mencium bau pesing di kereta Metro yang kami tumpangi dari Gare d'Lest ke hotel. :( Manusianya juga nggak seteratur di Jerman. Nggak sulit kita menemukan pengemis, gelandangan di pojok-pojok stasiun atau penjual suvenir asongan yang menjajakan dagangannya dengan agresif bak di Mangga Dua. "Five Euro sir. Five Euro. Very cheap, I give you special price ... Okay, okay, Two Euro. Two Euro sir" (sambil membututi kemana kita berjalan dan menyodor-nyodorkan barang jualannya). ^^

Pernah juga saya berada di satu gerbong metro dengan gerombolan anak sekolah yang sepertinya drunken dan teriak-teriak nggak jelas tanpa merasa bersalah. Yang ini di Jerman juga ada, cuma nggak separah itu deh kayaknya. Entah karena pertimbangan apa, tingkat kenyamanannya di sarana angkutan umum banyak dikurangi. Gerbong kereta-kereta RER di Paris yang sepertinya menggunakan seri yang sama dengan yang dipakai di Jerman (model bertingkat/bilevel) interiornya jauh beda dan tingkat kenyamanannya banyak dipangkas. Mungkin gerbong kelas 2 di Jerman bisa setara dengan kelas 1 di Paris.


Well, tapi semua kesan negatif itu tertutupi oleh tempat-tempat yang menakjubkan dan perjalanan yang menyenangkan di sana. Juga makanannya! Soal makanan ini selama 3 hari saya mencicipi masakan dari 5 negara. Hari pertama saya makan masakan Perancis, dengan tahapan coursesnya yang nggak menguntungkan karena sangat lama (slow food), sementara waktu itu sudah kelaparan. Untuk dinner saya ke restoran Indonesia di dekat kampus Sorbonne. Ada menu seperti Gulai Kambing, Rendang Sapi dan Gado-Gado. Enak, tapi kalau liat harganya bisa misuh-misuh, apalagi kalau dirupiahkan. Hahaha. Hari kedua saya makan McDonalds di Versailles dan makan malam di restoran Lebanon dekat Eiffel. Acara makan-makan ditutup dengan masakan Thailand di hari terakhir. Semua itu membuat saya agak bangkrut karena harga makan di Paris sekitar 3-5 kali lipat dibandingkan di kota-kota kecil-menengah Jerman.

Terakhir, inilah itinerary saya selama di Paris. Ngga terlalu banyak yang bisa dikunjungi dalam 2,5 hari meskipun pulang ke hotel selalu sampai jam 12 malam. Ya, waktu banyak buat jalan kaki, naik turun stasiun Metro dan berburu foto. Jika ada kesempatan kedua, tentunya akan menyenangkan. Lebih menyenangkan sebetulnya kalau bernuansa romantis, misal dengan pacar, istri, selingkuhan atau gebetan. Hehehe.

Hari ke-1: Issy-les-Moulineaux, Grande Mosquée de Paris, Jardin des Plantes, Rue Mouffetard, Panthéon, University of Paris (Sorbonne), Notre Dame, sepanjang Seine River, Louvre (outside).
Hari ke-2: Château de Versailles, Les Invalides, Champs-Élysées, Arc de Triomphe, Eiffel Tower
Hari ke-3: Jardin du Luxembourg, Saint-Sulpice Church, Louvre (inside)

Album foto:
Paris

Monday, December 22, 2008

Happy Birthday

Sekarang jam 2 pagi, dan saya masih harus membikin tulisan ini, tapi nggak apa2 deh. Ini tanggal 23 Desember, hari ulang tahunnya si Bebe. Moga-moga setelah ini, dia nggak selalu nganggep saya nggak perhatian atau sejenisnya. Capekk.

Sudah bisa ditebak, tentunya tahun ini saya ngga bisa nemenin di hari ulang tahunnya. Nggak bakal ada ritual-ritual yang biasanya saya lakuin bareng dia kalau ada yang ultah. Sudah bisa ditebak juga, seperti biasanya no surprise dari saya. Menyedihkan memang. Selain karena faktor sayanya yang selalu bingung kalau bikin surprise, faktor dianya juga yang sejak berbulan-bulan sebelumnya udah minta kado ini atau itu. So, gimana mau bikin surprisenya.

Be, selamat ultah ya. Moga-moga kamu bisa hepi hari ini .. dan juga di hari-hari lainnya, meskipun aku nggak bisa selalu bikin kamu hepi, atau menemani kamu sewaktu hepi. Moga2 cita-citamu tercapai. Tapi yang lebih penting moga2 kamu semakin dewasa dan bisa memaknai hidupmu sendiri. Jangan rewelan lagi, jangan suka bete, jangan boros, jangan suka belanja barang2 nggak jelas, jangan suka marah2 kalau aku sibuk dan jangan suka negative-thinking.

Mungkin aku nggak pernah bisa romantis. Mungkin aku nggak bisa inget setiap peristiwa di hari ultahmu selama 4 tahun terakhir ini. Tapi percaya aja, sampai detik ini aku masih sayang. Rasa sayang yang nggak mudah hilang cuma karena kesel, sebel, benci atau sakit hati.

Liebe,
Bibi

Tuesday, December 9, 2008

Choices


Ada satu adegan dalam episode terbaru Prison Break ("Just Business") yang membuat saya terkesan. Di situ diceritakan seorang tokoh antagonis T-Bag menangkap seseorang yang diduga sebagai anggota "The Company". Singkat cerita, dia menangkap seorang musuh yang bisa mengancam jiwanya.

Aslinya T-Bag ini pembunuh dan pedofil, yang kemudian berganti identitas di suatu waktu menjadi Cole Pfeifer, seorang salesman yang sukses. Nampaknya dia menikmati identitas barunya sebagai orang "normal" itu sampai suatu saat semuanya terbongkar dan terpaksa harus kembali ke identitas aslinya.

Kembali ke episode ini, dia diperintah untuk membunuh sang musuh yang sudah dalam keadaan tidak berdaya. Di situ dia mendapat dilema, apakah harus mengikuti order itu, yang artinya dia kembali ke identitas aslinya sebagai pembunuh, atau melepaskan orang itu dan tetap menjadi Cole Pfeifer yang tidak akan membunuh orang. Singkat cerita, pada akhirnya dia mengambil pilihan yang kedua dan membebaskan sang musuh. Namun apa yang terjadi, keputusannya itu salah dan malah menjadi bumerang. Sang musuh justru balik menyerang T-Bag setelah dibebaskan.

Nggak seperti cerita pada umumnya, di mana kebaikan selalu berujung dengan suatu yang baik secara instan. Kisah ini lebih mendekati realitas, dimana kadang keputusan yang baik malah justru menghasilkan sesuatu yang buruk. Niat yang baik justru menjadi bumerang. Perbuatan benar malah berujung sesuatu yang tidak menyenangkan.

Lalu masihkah kita berbuat dan memilih yang baik jika memang pada akhirnya berujung tidak seperti yang kita inginkan? Seharusnya masih, karena kebaikan seharusnya tidak pamrih. Kebaikan memang perlu dipilih bukan hanya karena itu menguntungkan diri kita. Konon itulah yang membuat seseorang memiliki value lebih dibanding yang lain.

Wednesday, November 26, 2008

10 Things

Tulisan ini bukan ide saya, cuma meneruskan apa yang sudah dimulai sebelumnya. Hehehe. Well, ini adalah "10 Things I Know About Myself".

Saya itu...

1 Suka Superman
Saya adalah 'Generasi Smallville'. Orang-orang yang mengenal Superman dan dunianya lewat serial TV ini. Biarpun begitu, saya memang sudah suka dengan tokoh-tokoh super hero sejak kecil. Yang jelas saya punya satu boneka Superman, kado ultah dari someone. I love it so much ;)

2 Hemat
Ya, mungkin lebih tepat dibilang "tidak terlalu boros". Tapi ada juga yang bilang kalau saya agak pelit, termasuk untuk diri sendiri. Bisa jadi ini genetik, atau bisa juga karena faktor lainnya. Note: saya selalu membuat list expenses tiap harinya.

3 Tidak suka yang simpel
Banyak orang bilang "kalau ada cara gampang kenapa harus yang sulit?". Dalam konteks terutama pekerjaan, saya nggak setuju sikap yang terlalu men-simplifikasi masalah, apalagi dengan cara 'jembatan keledai'. Bagi saya segalanya harus punya dasar yang kuat, konsep dan metode.

4 Suka mendebat
Mungkin ini negatif di kultur Indonesia. Banyak orang juga komplain dan cenderung nggak suka. Well, but at least it works well here. Beda kultur.

5 Nggak bisa suka western food
Saya bisa saja terbiasa dengan makanan ini seperti sekarang, tapi tetap saja saya nggak akan pernah bisa sunguh-sungguh menyukainya. Maklum masih lidah ndeso. Asian food masih the best i.m.o. Terlebih apa yang namanya Mayonaise, Salad, Potato-made food, etc. Aneh buat saya.

6 Ngga suka diatur
Semakin banyak diatur, saya cenderung semakin membangkang. Ini karakter sejak kecil. Ngga terlalu suka diatur baik oleh orang, aturan atau adat-istiadat. Akibatnya ya sudah jelas.

7 Suka belajar
Bisa jadi ini hal positif. Saya suka belajar. Hm, ngga dalam konteks yang terlalu umum, tapi mungkin lebih yang berbau urusan serius. Perlu diinget, dengan menyukai dan banyak belajar tidak selalu berarti outcomenya selalu berkorelasi positif lho. But at least i'm enjoying it.

8 Nggak betahan di rumah
Jangan diinterpretasikan saya sangat menyukai travelling. Iya, tapi nggak sampai level itu. Poin di sini adalah, saya nggak bisa terlalu lama diam di rumah tanpa keluar. Nggak heran selama masih ngekos, saya suka jalan ke sana sini tanpa tujuan, cuman untuk dapetin fresh air.

9 Nggak romantis
Sudah jelas dan sudah ada yang komplain juga. Tapi mungkin inilah sebabnya hampir semua mantan-mantan saya bukan tipe cewek yang lembut dan cinderella. ^_^. Mungkin ini bisa diubah in the future, tapi mungkin juga sulit

10 Suka main game
Bicara hobby, saya suka nge-game. Computer game. Sejak kecil sampai sekarang. Tapi memang, nggak terlalu banyak waktu yang bisa saya lakukan untuk ini. Menyedihkan sekali.

So, selesai tugas ini. ;)
Saya harus melempar tokat estafet ini ke orang lain, atau bagaimana? *nanya*
Bye.

Sunday, November 23, 2008

First Snow in Kaiserslautern

It seems that the winter is coming earlier in this city than before. Many people said this year is much colder than last year, even though it's still warmer than it should be. But for people from tropical countries like me, this +- 0 Celcius degree should have been more than cold and painful. But now, I'm enjoying the weather, especially the snow falls since it's my first experience with a real showers. You can simulate the temperature and the snow like in Snow City, but you will not feel the real sensation.

From Snow Flurries


Talking about winter, I still don't have plan for my Christmas holiday. Usually people here go on vacation with their family in Christmas. They visit warmer places like Asia, northern African countries or South America. Also many students spend their 2-3 weeks holiday to travel around Europe. Maybe it will make them fresh after 2 months struggling with the lectures, assignments, projects, and prepare for the examination periods 1 month after.

Well, in my case, I got lots to do with my study. Maybe I will spend just 2-3 days for traveling and keep the rest zu Hause. One of my friends invites me to visit Vatican in Christmas, and some others invite me to Paris, or Amsterdam, or even USA. Germany's neighboring countries would be great. Not too far, not too much time.

So, that's all. I'm going to cook, laundry and clean my room. Ciao!