Monday, May 17, 2010

La Torre di Pisa

Menara Pisa sebagai bagian dari keajaiban dunia memang menjadi daya tarik sendiri untuk turis. Padahal, menara bell gereja yang miring sekitar 4 derajat ini sebetulnya biasa-biasa saja menurut saya. Ada ratusan bangunan kuno lainnya di Italia ataupun di Eropa yang jauh lebih mengagumkan dan bernilai sejarah tinggi. Selain itu kota Pisa juga sangat kecil dan tidak banyak yang bisa dilihat.

Buat saya, yang justru menarik adalah perilaku para turis yang ingin berfoto dengan sang menara. Entah siapa yang pertama kali menginspirasinya, tapi nyaris semua pengunjung mencoba berpose seperti ini (pretending seolah2 sedang menahan kemiringan sang menara). :-D


Tapi ada beberapa orang yang kreatif dan nggak sekedar ikut-ikutan seperti foto di atas.



... dan yang terakhir ini paling lucu :-D



Catatan:
- Foto-foto diambil dari Google/Flickr
- Foto-foto saya selama di Pisa di sini.

Friday, February 19, 2010

Caffè

Berada di Italia tanpa mencoba khasnya kopi Italia rasanya sayang sekali. Italian coffee culture sudah mendunia, dan dari sanalah berasal capuccino ataupun espresso. Orang Italia menggantikan sarapan paginya dengan pergi ke bar dan memesan satu cangkir kecil espresso. Konon, coffeehouse pertama di Eropa (dan mungkin di dunia) dibuka pada abad 17 di kota Venesia, yang kemudian menyebar ke kota-kota lain di Italia dan Eropa. Memang biji kopi tidak dihasilkan Italia, tapi budaya minum kopi lahir dari sana.

Tentunya orang Italia punya standar citarasa akan kopi yang sangat tinggi. Mereka sudah sangat selektif dari pemilihan biji kopinya: ukuran, warna dan tentunya aroma. Orang-orang di Italia selatan lebih suka biji yang lebih gelap, sementara orang-orang di utara menyukai sebaliknya. Dengan standar yang seperti ini, nggak heran mereka punya bar favoritnya sendiri untuk minum kopi. Rata-rata, secangkir kecil (1 tegukan) espresso harganya sekitar 1 euro. Capuccino agak lebih mahal beberapa puluh sen. Kalau nggak terlalu peduli rasa, ada banyak vending machine yang menyediakan berbagai pilihan kopi dengan harga separuhnya.

Ada beberapa aturan tidak tertulis tentang minum kopi di Italia. Yang utama tentunya adalah minum kopi tidak boleh sambil makan. Minum kopi adalah ritual tersendiri setelah makan. Sebagai pengganti sarapan, orang boleh minum capuccino atau café latte yang mengandung campuran susu. Tapi, memesan capuccino dan kopi mengandung susu lainnya setelah makan siang adalah hal yang tidak umum, dan bahkan konyol. Saya nggak tahu penjelasannya, tapi menurut dosen saya, itu ada penjelasan ilmiahnya juga, berhubungan dengan pengaruh susu dan pencernaan.

--
"perfect italian espresso coffee" by Flickr user Tassoman, used under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 2.0 license.

Thursday, February 18, 2010

Setengah Hari di Venesia

Dua minggu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Venesia (Venice, Venezia), yang cukup terkenal karena keunikan arsitekturnya, budayanya dan berbagai festival yang membuat kota ini pernah dinobatkan sebagai kota paling romantis di Eropa --sejajar dengan Paris dan Roma. Sayangnya, saya hanya sempat berada di kota ini selama setengah hari, karena keterbatasan waktu. Perjalanan dari Bolzano ke Venesia menempuh waktu sekitar 4 jam menggunakan kereta api.

Venesia adalah kota yang paling menakjubkan yang pernah saya kunjungi dalam hidup saya. Tidak lagi Paris, bahkan Barcelona. Padahal sebetulnya, setengah hari itu tidak cukup untuk benar-benar menjelajah seluruh sudut kota yang tersebar di pulau-pulau di perairan Adriatik. Kalau ada kesempatan, pastinya saya pingin kembali ke sana.

From Venice

Kalau lihat sejarahnya saja, Venesia ini sudah sangat mengagumkan. Venesia sudah mengalami sejarah yang sangat panjang dan berpengaruh dalam peradaban Eropa, sejak kota ini didirikan di abad-abad awal oleh para pengungsi dari kota-kota Italia yang waktu itu diinvasi orang-orang Jerman. Mereka kemudian membentuk suatu pemukiman nelayan yang tersebar di pulau-pulau yang membentuk sebuah laguna. Venesia juga pernah punya sejarah panjang sebagai suatu negara dengan kekuatan maritim yang sangat kuat, dan berperan besar dalam perang salib selama berabad-abad. Berbagai konflik politik akhirnya membuat Venesia melemah dan dikuasai orang-orang Perancis (Napoleon Bonaparte), Austria dan akhirnya membentuk Republik Italia yang sekarang.

Kota ini memang benar-benar dibangun 'di atas air'. Konon, ini memang dimaksudkan sebagai salah satu sistem pertahanan terhadap serangan musuh-musuh. Hampir seluruh penjuru kota memang hanya bisa dilewati melalui ratusan kanal yang terserbar di ratusan pulau-pulau. Jalan darat hanya bisa ditempuh melalui ribuan gang-gang sempit dan jembatan-jembatan di atas kanal yang menghubungkan setiap sudut kota. Dengan situasi seperti ini, 'musuh' yang tidak memiliki cukup armada laut akan mengalami kesulitan. Apalagi pada jaman itu, Venice mempunyai pabrik kapal perang yang cukup besar di Eropa.

From Venice

Saya berkunjung ke kota ini pada hari kedua karnaval Venesia, yang konon merupakan salah satu festival terbesar di Eropa. Karnaval ini faktanya sudah berusia ribuan tahun (sejak sekitar abad 13), sebagai perayaan yang berhubungan dengan awal masa puasa bagi penganut Katolik Roma. Kata 'karnaval' yang dalam bahasa italia: carnevale, berasal dari bahasa latin 'carnem levare' yang berarti 'farewell to meat'. Orang Katolik melakukan puasa sebelum hari Paksah dengan melakukan pantang (salah satunya daging).

Seperti festival-festival lainnya di Venesia saat itu, banyak orang memakai kostum-kostum unik dan topeng. Pada masa itu topeng banyak digunakan untuk menyembunyikan identitas orang-orang yang tidak ingin dikenali pada saat berjudi atau terlibat dalam bisnis prostitusi. Di sisi lain, topeng juga menjadi simbol kemewahan dan kehormatan wanita. Namun karena pada akhirnya kebiasaan ini banyak disalahgunakan untuk kejahatan dan mengembangkan prostitusi di kota ini, akhirnya pemakaian topeng dilarang oleh Gereja dan pemerintah. Larangan ini berlangsung selama ribuan tahun, sampai pada tahun 1979, sekelompok orang kembali menghidupkan karnaval ini dan berlangsung sampai sekarang.

From Venice

Karnaval ini diselenggarakan di seluruh penjuru kota, namun berpusat di Piazza San Marco, yang merupakan pusat kota Venesia (di sana ada katedral, istana dan berbagai bangunan penting lainnya). Ribuan orang memadati daerah ini dengan memakai kostum yang unik-unik. Ada panggung besar yang menampilkan pertunjukan budaya. Di banyak bar atau pub, ada pesta-pesta private yang ikut memeriahkan festival ini.

Setengah hari memang sangat kurang. Saya cuma bisa berjalan kaki mencapai Piazza San Marco, di sebelah selatan pulau utama dan belum sempat menyeberang ke pulau-pulau lainnya, yang pastinya lebih menarik. Meskipun harus berjejalan bersama ratusan ribu orang yang memadati gang-gang sempit sehingga situasinya mirip Malioboro di waktu liburan, dan mengantri di hampir setiap jembatan, rasanya pengalaman pertama ini tetap berkesan buat saya.

From Venice

Sayangnya, saya dan teman-teman nggak sempat mencoba naik gondola, sejenis perahu khas di Venesia. Bukan sekedar harga sewanya yang sangat mahal, tapi attitude dari para gondolier yang sempat membikin kami trauma. Campuran gaya tawar-menawar tukang becak di Indonesia dan perangai keras orang Italia :))

Thursday, February 4, 2010

Perpustakaan

Perpustakaan kampus seharusnya memang didesain senyaman mungkin, supaya mahasiswa betah tinggal lama di sana dan mudah mencari segala sesuatu yang dibutuhkan. Meskipun mungkin lebih banyak perpustakaan lain di dunia yang jauh lebih megah dan nyaman, rasanya perpustakaan di universitas tempat saya studi sekarang bisa jadi salah satu contohnya. Untuk ukuran universitas yang hanya terdiri dari 5 fakultas (well, rata-rata perguruan tinggi di Eropa memang tidak berukuran raksasa seperti di Indonesia yang punya sampai puluhan jurusan), dan hanya ada sekitar 3000 mahasiswa aktif, kapasitas perpustakaan di Free University of Bozen-Bolzano ini saya rasa sudah cukup besar.


Dengan luas lebih dari 5000 meter persegi, 4 lantai, 500 lebih tempat belajar lengkap dengan lampu meja, colokan listrik dan koneksi wireless supercepat, ratusan PC, dan yang terpenting jam buka sampai pukul 12 malam setiap harinya, rasanya perpustakaan ini sudah sangat istimewa. Belum ditambah fakta tentang koleksi bukunya dan jurnal-jurnal serta infrastruktur IT yang cukup canggih (digital library, RFID dsb), membuat universitas ini layak menempati posisi 2 pada ranking perpustakaan di negara-negara berbahasa Jerman (Jerman, Austria, Swiss dan provinsi South-Tyrol di Italy). Bolzano adalah kota di Italy yang berada di provinsi South Tyrol, dimana bahasa Jerman merupakan bahasa resmi sejajar dengan bahasa Italia.


Perpustakaan memang seharusnya didesain nyaman. Karena itulah saya cukup betah berlama-lama di sini, hanya untuk sekedar baca-baca, online atau mempersiapkan ujian. Saking nyamannya, mungkin hampir semua mahasiswa di sini berpikir yang sama, sehingga di masa-masa ujian, seluruh meja belajar, termasuk ruang-ruang PC sudah penuh dengan mahasiswa. Sampai tutup jam 12 malam!

Di Indonesia banyak universitas-universitas besar. Perpustakaannya juga konon banyak yang sudah modern dan besar. Tapi setidaknya sampai sekitar 3 tahun lalu, jarang sekali saya lihat mahasiswa tinggal lama di perpustakaan. Mungkin karena label negatif yang suka dilekatkan pada mereka yang suka tinggal di perpustakaan, atau mungkin karena memang tempatnya kurang cozy buat belajar. Atau memang mereka sudah terlalu sibuk dengan kegiatannya (assuming mengunjungi perpustakaan bukan termasuk 'kegiatan mahasiswa' di sana). ;-D